Berikut ini adalah keunggulan jika menggunakan Tekhnologi Honda PGM-FI :
Ramah Lingkungan
Irit Bahan Bakar
Lebih Bertenaga
Mudah Dihidupkan
Mudah Perawatan
Aman Dengan Premium
dan yang paling penting Honda Memberikan Garansi 5 Tahun loh......
Honda PGM-FI dikatakan ramah lingkungan, karena perpaduan antara kecerdasan sensor O2 dan catalytic converter dalam teknologi PGM-FI untuk mengendalikan kadar gas buang yang mampu menekan emisi hingga 90%, sesuai dengan standar regulasi EURO 3. Mampu menekan Emisi hingga 90%, menjaga udara tetap bersih. Jadi walaupun kita berkendara tetapi kita tetap menjaga udara disekitar kita menjadi tetap bersih. Dikarenakan gas buang yang sampai 90% itu, maka Honda PGM-FI lebih irit bahan bakar karena dapat mengendalikan komposisi optimal antara pasokan bahan bakar dan oksigen untuk menghasilkan pembakaran yang lebih efisien hingga 17%.
Honda PGM-FI juga lebih bertenaga karena pengaturan kinerja mesin yang telah terprogram pada setiap putaran mesin akan memberikan akselerasi yang lebih responsif. Teknologi serupa yang juga diaplikasikan pada motor juara MotoGP, kini ada di sepeda motor kesayangan Anda. Jadi jika anda memilih Honda PGM-FI, anda berada di posisi yang tepat.Selain itu juga, Honda PGM-FI lebih mudah dihidupkan,baik dalam kondisi cuaca apapun,dan juga perawatannya lebih mudah karena sistem kendali elektronik dalam PGM-FI didukung oleh MIL (Malfuction Indicator Lamp) untuk mengidentifikasi gangguan mesin melalui jumlah kedipan lampu sehingga membantu perawatan menjadi lebih mudah. Perawatan optimal dapat dilakukan di Bengkel Resmi Honda seluruh Indonesia. Selain itu juga Honda PGM-FI aman dalam menggunakan premium diseluruh SPBU yang ada diindonesia.
Dan satu lagi yang paling membuat kita lebih yakin menggunakan produk dari Tekhnologi Honda PGM-FI adalah karena Honda berani memberikan garansi hingga 5 Tahun untuk komponen PGM-FI setara 50.000 km. Jadi jangan samapai salah pilih dalam menentukan kendaraan masa depan. Honda selalu yang terbaik. "SEPEDA MOTOR INJEKSI IRIT HARGA TERBAIK CUMA HONDA"
1. Klasifikasi
Kewajiban dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan , yakni kewajiban lancar dan kewajiban jangka panjang. Kewajiban lancar atau kewajiban jangka pendek adalah kewajiban-kewajiban yang penyelesaiannya dilakukan dengan menggunakan aktiva lancar atau pembentukan kewajiban lancar lainnya atau kewajiban yang harus diselesaikan kurang dari satu tahun. Sebagian utang jangka panjang yang pembayarannya kurang dari satun tahun termasuk kewajiban jangka pendek.
Kewajiban lancar yang biasanya terdapat dalam sebuah perusahaan adalah : 1). Utang dagang, 2). Utang wesel, 3). Utang bank jangka pendek, 4). Utang beban, 5). Utang pajak penghasilan, 6). Bagian kewajiban jangka panjang jatuh tempo dalam satu tahun mendatang. Kewajiban jangka panjang meliputi : 1). Utang obligasi, 2). Utang bank janga panjang, 3). Utang sewa jangak panjang. Utang dagang adalah kewajiban lancar yang timbul sebagai akibat dari kegiatan usaha normal perusahaan seperti , pembelian barang dagang dan jasa. Jenis kewajiban ini biasanya merupakan sumber pembelanjaan yang digunakan untuk melakukan pembelian barang dagang.
Utang wesel, seperti halnya utang dagang dapat berasal dari pembelian barang dagangan, utang wesel juga bisa berasal penerimaan pinjaman. Utang wesel sebagai kebalikan dari piutang wesel, adalah janji tertulis untuk membayar dalam jumlah tertentu dan dalam jangka waktu tertentu. Utang bank, biasanya timbul sebagai akibat dari pinjaman bank yang diterima, Utang bank dapat berupa kewajiban lancar atau kewajiban jangka panjang, tergantung pada jangka wantu pembayaran yang telah disetujui oleh kedua belah pihak. Utang beban, adalah utang-utang yang timbul sebagai akibat dari beban-beban rutin untuk menjalankan kegiatan perusahaan yang belum dibayar. Utang beban kadang-kadang disebut dengan beban masih harus dibayar (accrued liabilities). Utang pajak penghasilan , adalah pajak penghasilan tahun berjalan yang masih harus dibayar setelah diperhitungkan pajak yang telah di bayar dimuka.
Utang obligasi adalah janji tertulis untuk membayar sejumlah uang tertentu dalam jangka waktu tertentu. Berbeda dengan utang wesel walaupun mempunyai definisi sama, obligasi merupakan utang jangka panjang dan biasanya menyangkut kreditur yang banyak. Obligasi dapat diperdagangkan dalam bursa seperti halnya saham-saham perusahaan.
Utang sewa jangka panjang (long tern lease obligasi) akhir-akhir ini banyak perusahaan memilih untuk menyewa aktiva tetap daripada membelinya. Sering terjadi masa sewa berlangsung dalam waktu lama. Bahkan tidak jarang selama jangka waktu kegunaan. Dalam keadaan tertentu, sewa jangka panjang akan menimbulkan utang sewa jangka panjang.
2. Penilaian
Kewajiban (utang) menunjukkan jumlah uang atau aktiva yang harus dikeluarkan atau nilai jasa yang harus diberikan di masa yang akan datang. Secara teoritis nilai uang (atau aktiva) yang dikeluarkan di masa yang akan datang akan kecil kalau dinyatakan pada waktu sekarang (pada tanggal neraca). Ada beberapa sebab mengapa nilai uang yang akan datang lebih kecil dari pada nilai saat sekarang, pertama, jumlah yang diterima di masa datang mengandung risiko kemungkinan tidak diterima. Oleh sebab itu, orang bersedia menerima jumlah yang lebih kecil sekarang daripada menerima jumlah yang lebih besar di masa datang. Kedua, apabila uang yang diterima sekarang , maka uang tersebut bisa digunakan sehingga akan mendatangkan hasil. Kemungkinan hasil yang diperoleh ini menyebabkan jumlah dimasa datang lebih kecil nilainya kalau diukur pada saat sekarang. Proses menentukan berapa nilai yang harus di cantumkan sekarang untuk jumlah yang masih akan diterima di masa datang disebut pendiskontoaan (discounting).
3. Utang dagang
Utang dagang merupakan kebalikan dari piutang dagang. Seperti halnya piutang wesel dan utang wesel. Untuk utang ini perusahaan tidak membuat janji tertulis, sehingga kedudukannya berada di bawah utang wesel. Hal yang perlu diperhatikan pada waktu menyusun laporan keuangan adalah memastikan bahwa semua utang dagang yang berasal dari pembelian barang dan jasa telah dicatat. Contoh : PT. Sanjaya Abadi pada tanggal 30 Desember 2009 membeli barang dagang seharga Rp. 25.000.000,- dengan syarat franco gudang . Barang sudah diterima pada tanggal 31 Desember 2009 dan sudah dimasukkan dalam persediaan. Pembelian ini harus sudah dicatat oleh PT. Sanjaya Abadi sebagai utang pada tanggal 31 Desember 2009 walaupun faktur penagihan dari pemasok belum datang.
Pencatan (ayat jurnal) seperti diatas juga perlu dibuat apabila syarat jual beli loko gudang dan barang sudah dikirim. Walaupun barang serta faktor penagihan dari suplier belum diterima, pembelian tersebut sudah masuk merupakan utang. Dalam hal ini nilai persediaan pada tanggal 31 Desember 2009 harus ditambahkan dengan jumlah yang masih dalam pengiriman. Utang dagang dinilai dan dilaporkan di neraca sejumlah uang yang harus dikeluarkan untuk melunasi kewajiban tersebut. Jumlah ini sama dengan aktiva (persediaan barang) yang diterima. Perhatikan bahwa cara penilaian utang dagang berbeda dengan penilaian piutang dagang. Piutang dagang dinilai dan dilaporkan sejumlah yang diharapkan dapat diterima, yaitu sebesar jumlah bruto dikurangi penyeisihan untuk piutang tak tertagih. Untuk utang dagang pembentukan penyisihan untuk utang-utang tidak akan di bayar tidak diperbolehkan.
4. Utang wesel
Utang wesel merupakan kebalikan dari piutang wesel. Utang wesel merupakan kewajiban lancar atau kewajiban jangka panjang tergantung pada jangka waktu jatuh temponya. Disamping itu wesel dapat digolongkan kedalam wesel berbunga dan wesel tidak berbunga. Cara menentukan tanggal jatuh serta bunganya tidak berbeda dengan piutang wesel.
5. Utang lain-lain
Pos-pos yang termasuk dalam kelompok ini diantaranya adalah ; a). utang beban, b). pendapatan ditangguhkan (defered revenue) atau sering disebut pendapatan diterima dimuka (unearned revenue), c). Utang kepada pemegang saham atau perusahaan afiliasi.
a. Utang beban
Pos ini kadang-kadang disebut beban masih harus dibayar (accrued liabilities). Contoh utang beban antara lain gaji yang harus bayar, bunga dan pajak yang harus dibayar. Oleh karena utang beban belum dicatat , maka sebelum laporan keuangan disusun, perlu dibuatkan jurnal penyesuaian, untuk utang beban. Jurnal penyesuaian untuk utang beban pada akhir tahun di buat dengan mendebit akun beban dan mengkredit utang beban. Pada awal periode berikutnya, atas jurna penyesuaian utang beban dibuatkan jurnal balik.
Utang beban biasanya bukan merupakan bagian yang cukup dibandingkan dengan total kewajiban perusahaan, sehingga sering utang beban disajikan secara gabungan. Tetapi, apabila salah satu pos ini dari utang beban jumlahnya cukup besar , maka pos perlu disajikan secara terpisah. Utang beban pada umumnya akan digolongkan ke dalam kewajiban lancar.
b. Pendapatan di terima dimuka
Pendapatan yang diterima selama periode tertentu mungkin tidak seluruhnya merupakan hasil periode itu. Selama belum dapat diklasifikasikan sebagai pendapatan, uag yang diterima tersebut disajikan sebagai pendapatan diterima di muka (unearned revenue). Pendapatan diterima dimuka dimasukkan sebagai bagian dari kewajiban lancar. Tidak seperti halnya dengan utang yang lain, pendapatan diterima dimuka akan dilunasi dengan menyerahkan barang atau jasa.
c. Utang pajak
Perusahaan-perusahaan yang melakukan operasi di Indonesia diwajibkan untuk menghitung, memotong, dan menyetorkan pajak penghasilan yang dikenakan kepada pegawai/karyawan yang bekerja didalammya atas gaji/upah yang mereka terima. Biasaya terdapat selisih waktu antara saat pajak tersebut harus diperhitungkan dan dipotongkan dengan saat harus disetorkan ke kas negara. Selisih waktu itu akan mengakibatkan timbulnya utang yang harus dicatat.
Disamping itu, pada beberapa perusahaan tertentu, mereka mungkin ditunjuk sebagai wajib pungut untuk pajak pertambahan nilai atau pajak penjualan barang mewah atas penjualan barang/jasa yang dilakukan. Dalam hal demikian, perusahaan yang ditunjuk sebagai wajib pungut pajak tersebut harus menghitung, memungut dan menyetorkan ke kas negara pajak yang terutang. Seperti halnya dengan pemotongan pajak penghasilan karyawan, saat perhitungan dan pemungkutan biasanya tidak bersamaan dengan saat pembayaran, sehingga akan menimbulkan yang perlu dicatat.
Bagian terpenting dari utang pajak adalah utang pajak penghasilan. Jumlah ini merupakan pajak yang dikenakan terhadap laba perusahaan dalam satu tahun setelah dikurangi dengan angsuran pajak, pembayaran dimuka pajak lainnya serta kredit pajak yang diperkenankan.
d. Utang jaminan
Uang jaminan ialah uang yang diterima perusahaan sebagai jaminan aktiva atau kegiatan yang dipercayakan kepada pelanggan. Misalnya, seseorang membeli minuman dalam botol harus menyerahkan uang untuk jaminan botol. Uang jaminan akan dikembalikan apabila botolnya dikembalikan. Bagi perusahaan yang menjual minuman dalam botol tersebut, uang yang diterima sebagai jaminan ini akan dicatat debit bank, kredit utang jaminan (botol). Pada saat aktiva (botol) dikembalikan, akun uang jaminan di debit, bank di kredit. Pos uang jaminan disajikan sebagai bagian dari kewajiban lain-lain.
e. Utang pada pemegang saham saham atau perusahaan afiliasi
Utang kepada pemegang saham pada umumnya berasal dari pinjaman yang diberikan oleh pemegang saham di luar setoran modal. Utang kepada perusaahaan afiliasi dapat berasal dari pinjaman atau dari transaksi-transaksi lain, misalnya pembelian barang atau jasa. Utang kepada pemegang saham atau perusahaan afiliasi dapat merupakan kewajiban lancar atau kewajiban jangka panjang tergantung pada jangka waktu pengembaliannya.
B. UTANG OBLIGASI
Perusahaan seringkali melakukan peminjaman uang dengan cara mengeluarkan obligasi. Seperti halnya wesel, obligasi juga disertai dengan surat janji tertulis untuk membayar bunga dan pokok pinjaman (atau biasa disebut nilai nominal atau nilai pari). Nilai nominal obligasi dan tingkat bunga obligasi dicantunkan pada surat obligasi. Bunga obligasi per tahun dihitung dengan mengalikan persentase bunga terhadap nilai nominal. Kebanyakan bunga obligasi dibayar setiap enam bulan sakali bisa juga satu tahun. Tanggal pelunasan obligasi harus ditetapkan dengan pasti dan dicantumkan pada surat obligasi. Nilai nominal adalah nilai yang harus dilunasi pada tanggal jatuh tempo.
Perbedaan antara Utang Wesel dengan Obligasi
Apabila perusahaan (atau perorangan) meminjam uang dengan menarik promes, biasanya pinjaman tersebut diperoleh dari kreditur, misalnya sebuah bank. Berbeda dengan wesel, pengeluaran obligasi biasanya meliputi jumlah lembar yang banyak, yang dijual kepada khalayak ramai. Dengan demikian sumber pemberi pinjaman obligasi adalah masyarakat luas yang jumlahya bisa mencapai ratusan atau bahkab ribuan orang dan surat obligasi di perdagangkan di bursa efek, misalnya Bursa Efek Indonesia (BEI).
Perbedaan antara saham dengan obligasi
Saham dan obligasi adalah surat berharga yang diperdagangkan di pasar modal seperti Bursa Efek Indonesia. Namun kedua jenis surat berharga tersebut mempunyai perbedaan yang sangat besar. Saham adalah bukti kepemilikan atau bukti turut andil dalam penyetoran modal suatu perusahaan. Contoh : bila seseorang membeli 1.000 lembar saham suatu perusahaan dari 10.0000 lembar saham beredar perusahaan tersebut, maka orang itu mempunyai hak pemilikan sebesar 1/10 dari total modal perusahaan. Dengan demikian orang tersebut, juga mempunyai hak atas 1 / 10 bagian dari laba perusahaan.
Obligasi adalah merupakan bukti bahwa pemegang surat tersebut telah meminjamkan kepada perusahaan yang mengeluarkan obligasi yang bersangkutan. Apabila seseorang memiliki selembar obligasi dengan nilai nominal Rp. 10.000,- , 11 %, jangka waktu 20 tahun , maka orang tersebut mempunyak dua hak 1). Hak untuk mendapatkan bunga 11 % atau 1.100,- per tahun , dan 2). Hak untuk mendapatkan pengembalian (pelunasan) pada tanggal jatuh tempo, yaitu 20 tahun sejak obligasi dikeluarkan
1. Mengapa Perusahaan Mengeluarkan Obligasi ?
Perusahaan yang membutuhkan dana untuk jangka panjang biasanya mempertimbangkan untuk mengeluarkan saham atau obligasi. Baik saham maupun obligasi, masing-masing memiliki keuntungan dan kerugian. Pemegang saham yang ada sekarang (disebut juga pemegang saham lama) kadang-kadang merasa bahwa penambahan saham baru tidak menguntungkan bagi mereka. Oleh karena itu adanya penambahan saham bisa mendatangkan pemilikan-pemilikan baru yang dapat mengurangi hak pemegang saham lama. Obligasi tidak menyebabkan pertambahan jumlah kepemilik karena obligasi adalah pinjaman. Kreditur tidak akan mengganggu hak pemilikan perusahaan dan juga tidak mengganggu pembagian keuntungan perusahaan. Namun demikian, obligasi menimbulkan biaya bunga yang akan menjadi beban perusahaan.
Keuntungan potensil yang akan diperoleh bila perusahaan mengeluarkan obligasi adalah meningkatnya laba perusahaan, sehingga bagian laba untuk pemegang saham juga meningkat.
Contoh :
PT. Kharisma memiliki 200.000 lembar saham beredar, membutuhkan dana sebesar Rp. 1.000.000.000,- untuk mengembangkan usahanya. Manajemen memperkirakan bahwa setelah ekspansi perusahaan akan memperoleh laba sebesar Rp. 900.000.000,- per tahun sebelum dikurangi bunga obligasi, dan sebelum dikurangi pajak penghasilan. Untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut, PT. Kharisma dihadapkan dua pilihan. Pilihan pertama dengan menerbitkan saham baru sebanyak 100.000 lembar dengan nominal Rp. 10.000,- perlembar. Hal ini akan mengakibatkan meningkatnya jumlah saham beredar menjadi 300.000 lembar. Pilihan kedua ialah menerbitkan oblihasi yang nominalnya seluruhnya Rp. 1.000.000.000,- dengan tingkat bunga 10 %. Tabel di bawah ini merupakan pengaruh kedua pilihan terhadap laba PT. Kharisma
PEMENUHAN KEBUTUHAN DANA DENGAN SAHAM ATAU OBLIGASI
Pilihan Pertama (Rp) Pilihan kedua (Rp)
Laba sebelum bunga obligasi dan sebelum pajak 900.000.000,- 900.000.000,-
Di kurangi : Biaya Bunga - (100.000.000,-)
Laba sebelum pajak penghasilan 900.000.000,- 800.000.000,-
Di kurang : Pajak penghasilan 35 % (315.000.000,-) (280.000.000,-)
Laba bersih 585.000.000,- 520.000.000,-
Laba Per lembar saham :
Pilhan Perama ( 300.000 lembar)
Pilhan Kedua (200.000 lembar)
1.950,-
2.600,-
Dari perbandingan di atas terlihat bahwa laba per lembar saham akan lebih tinggi jika PT. Kharisma memenuhi kebutuhan dana dengan cara mengeluarkan obligasi. Hal ini disebabkan karena dalam penentuan laba kena pajak, bunga obligasi dapat dikurangkan terhadap laba, sehingga pajak penghasilan lebih kecil. Di lain pihak jumlah lembar saham beredar pada pilihan kedua (menerbitkan obligasi) tidak berubah tetap sebanyak 200.000 lembar saham, sehingga laba per lembasr saham menjadi lebih tinggi. Ditinjau dari segi para pemegang saham (lama), keaddan ini jelas akan lebih menguntungkan dibandingkan dengan menerbitkan saham baru.
2. Karakteristik obligasi
Dalam praktik dijumpai berbagai jenis obligasi dengan karakteristik yang berbeda-beda. Berikut ini akan diuraikan beberapa jenis obligasi yang sering dijumpai.
a. Obligasi seri
Obligasi seri adalah obligasi yang terdiri atas beberapa seri dengan tanggal jatuh tempu yang bebeda-beda. Sebagai contoh ; PT. Khatulistiwa mengeluarkan obligasi yang nilai nominal seluruhnya Rp. 1.000.000.000,- Obligasi tersebut terdiri 10 seri, masing-masing bernilai nominal total Rp. 100.000.000,- Mulai tahun ke - 6 , obligasi seri A sebesar Rp. 100.000.000,- akan jatuh tempo, disusul seri B tahun ke – 7, dan seterusnya samapai dengan tahun ke – 15.
b. Obligasi Sinking Fund
Berbeda dengan obligasi seri, obligasi sinking fund memiliki tanggal jatuh yang sama. Dalam obligasi ini, perusahaan yang mengeluarkan obligasi disyaratkan untuk menyisihkan sejumlah kekayaan perusahaan (disebut sinking fund), perusahaan akan memiliki kas yang cukup untuk melunasi obligasi tersebut.
c. Obligasi atas nama dan obligasi atas unjuk
Kebanyakan obligasi dibubuhi nama pemagangnya, artinya pada surat obligasi di cantumkan nama pemilik obligasi tersebut. Obligasi semacam ini disebut obligasi atas nama. Cara semacam ini dilakukan untuk mencegah kerugian pemegang, jika obligasi dicuri atau hilang. Apabila obligasi tidak diberi nama, maka pembayaran bunga dan pelunasan obligasi akan dibayarkan kepada orang yang menunjukkan surat obligasi. Obligasi semacam itu disebut obligasi atas unjuk.
d. Obligasi dengan jaminan dan obligasi tanpa jaminan
Obligasi dengan jaminan ialah obligasi yang dijamin dengan kekayaan perusahaan tertentu. Ini berarti bahwa jika diperlukan, kekayaan perusahaan yang dijadikan jaminan dapat dijual untuk melunasi obligasi. Dengan adanya jaminan ini, pemegang obligasi tidak perlu khawatir akan pelunasan obligasi pada tanggal jatuh tempo. Obligasi tanpa jaminan tidak secara eksplisit menyebutkan jaminan kekayaan tertentu. Dalam obligasi semacam ini, jaminannya adalah kemampuan keuangan perusahaan itu sendiri. Oleh karena itu, obligasi tanpa jaminan hanya akn laku dijual jik adikeluarkan oleh perusahaan yang mempunyai kemampuan keuangan yang kuat.
3. Proses Penerbitan Obligasi
Apabila perusahaan mengeluarkan obligasi, maka obligasi tersebut biasanya dijual kepada suatu perusahaan penjamin investasi yangdisebut underwriter. Selanjutnya underwriter inilah yang menjual obligasi kepada masyarakat. Dokumen atau akte yang memuat hak dan kewajiban perusahaan serta pemegang disebut perjanjian obligasi. Dengan demikian perjanjian obligasi merupakan suatu kontrak tertulis antara perusahaan penerbit obligasi dengan pemegang obligasi. Setiap pemegang obligasi akan menerima sertifikat obligasi yang meripakan bukti bahwa perusahaan mempunyai utang terhadap pemegang obligasi.
Apabila obligasi dijual kepada pembeli obligasi yang banyak jumlahnya maka mereka dapat mewakilkan oleh suatu trustee. Trustee bertugas untuk memonitor tindakan-tindakan perusahaan penerbit obligasi, sehingga perusahaan mematuhi segala ketentuan yang tercantum dalam perjanjian obligasi. Trustee biasanya berupa bank yang ditunjukk oleh perusahaan penerbit obligasi.
Apabila sebuah perusahaan telah memutuskan untuk mengeluarkan obligasi , maka perlu dibuat suatu surat perjanjian dengan para pemegang obligasi. Kerena pemegang obligasi pada umumnya berjumlah banyak, maka diwakili oleh yang disebut wali aamanah (trustee). Surat perjanjian utang (identure) pada umunya aakan memuat hal-hal sebagai berikut :
a. Nilai obligasi yang dikeluarkan serta nilai nominal tiap-tiap lembar obligasi.
Yaitu nilai yang tercantum (dicetak) pada surat obligasi. Nilai ini menunjukkan jumlah rupiah yang akan dilunasi pada tanggal jatuh obligasi tersebut.
b. Tanggal jatuh tempo/jangka waktu pelunasan.
Adalah tanggal obligasi yang bersangkutan akan dilunasi. Obligasi pada umumnya dikeluarkan untuk jangka waktu relatif lama. Pelunasan dapat dilakukan sekaligus pada saat jatuh tempo yang telah ditetapkan atau dalam suatu seri.
c. Bunga obligasi.
Adalah bunga per tahun yang akan dibayar kepada pemegang obligasi.
d. Tanggal bunga.
Adalah tanggal pembayaran bunga obligasi. Pada umumnya bunga obligasi dibayar secara setengah tahun ( setiap 6 bulan sekali). Misalnya obligasi yang mencantumkan tanggal bunga 1 / 4 - 1 / 10, berarti bahwa bunga akan dibayarkan setiap tanggap 1 april dan 1 oktober.
e. Jaminan yang diberikan perusahaan untuk pinjaman obligasi. Jaminan ini dapat berupa aktiva tetap, misalnya tanah, gedung dan mesin-mesin atau seluruh kekayaan perusahaan.
f. Ketentuan tentang penarikan kembali (call provision). Kadang-kadang dalam surat perjanjian disebutkan bahwa perusahaan dapat menarik kembali obligasi yang telah dikeluarkan pada harga tertentu. Biasanya harga penarikan (call price) ditetapkan lebih tinggi daripada nilai nominal obligasi.
g. Ketentuan tentang pembentukan dana pelunasan obligasi (bond sinking fund) dan cadangan pelunasan obligasi.
Penerbitan obligasi diawali dengan pencetakan dan penandatanganan perjanjian oleh perusahaan penerbit obligasi dan menyerahkannya pada trustee dari pemegang para pemegang obligasi. Pada saat itu perusahaan membuat memo penerbitan obligasi yang berbunyi “ Disetujui untuk menerbitkan obligasi senilai Rp. 8.000.000.000,- bunga 9 % jangka waktu 20 tahun, tertanggal 1 Januari 2009, dengan pembayaran bunga setiap tanggal 1 Juli dan 1 Januari “.
4. Agio dan disagio
Pengeluaran obligasi oleh sebuah perusahaan membawa konsekuensi dua hal yakni : (a). membayar sebesar nominal pada saat jatuh tempo, (b). membayar bunga secara berskala pada tingkat bunga tertentu selama obligasi beredar. Tingkat bunga yang telah ditetapkan dalam surat perjanjian disebut tingkat bunga kupon (coupon rate) atau tingkat bunga kontrak (contract rate). Tingkat bunga ini mungkin berbeda dengan tingkat bunga yang berlaku dipasar (market atau effective rate). Perbedaan antara antara tingkat bunga kupon dengan tingkat bunga efektif akan mengakibatkan perbedaan nilai nominal obligasi dengan harga jualnya.
Apabila tingkat bunga yang berlaku di pasar lebih tinggi daripada tingkat bunga kupon, maka harga jual obligasi akan lebih rendah daripada nilai nominalnya. Selisih antara nilai nominal obligasi (yang lebih tinggi) dibandingka dengan harga jualnya disebut disagio (discount). Sebaliknya, apabila tingkat bunga yang berlaku di pasar lebih rendah daripada tingkat bunga kupon, obligasi dapat dijual dengan harga di atas nominal. Selisih lebih harga jual dengan nilai nominal disebut agio (premium). Adanya agio atau disagio dapat dijelaskan dengan konsep nilai tunai (present velue) serta proses pendiskontoaan (discounting). Untuk menggambarkan masalah agio dan disagio, dapat kita ambil contoh :
PT. Himalaya pada tanggal 1 Juli 2009 menerbitkan obligasi dengan nilai nominal Rp. 100.000,- per lembar dijual dengan harga Rp. 110.000,-. Maka agio yang diperoleh adalah Rp. 10.000,- Sebaliknya jika obligasi yang di terbitkan oleh PT. Himalaya terjual dengan harga Rp. 96.000,- per lembar , maka disagionya adalah Rp. 4.000,-
5. Pengeluaran Obligasi
Obligasi dapat dijual pada nilai nominal, dengan agio atau disagio. Di bawah ini akan dijelaskan cara pencatatan dalam ketiga keadaan tersebut.
a. Nilai nominal
PT. Gunung Kerinci pada tanggal 1 November 2009 mengeluarkan obligasi sebanyak 1.000 lembar dengan nominal Rp. 15.000,- perlembar. Obligasi ini berjangka waktu 20 tahun dengan tingkat bunga kupon 18 % setahun. Bunga di bayar setahun sekali tiap tanggal 1 November. Pada saat penjual harga obligasi sebesar nilai nominalnya (obligasi dijual dengan kurs 100, artinya 100 % dari nilai nominalnya).
b. Disagio
Pada tanggal 1 Januari 2009 PT. Semeru menerbitkan obligasi sebanyak 2.000 lembar dengan nominal Rp. 15.000,- Bunga obligasi di bayarkan setiap tanggal 1 Januari . Obligasi ini dengan tingkat suku bunga sebesar 16 % setahun, dengan jangka waktu obligasi 5 tahun. Obligasi PT. Semeru dijual dengan kurs 95.
Disagio untuk pengeluaran obligasi ini sebesar Rp. 1.500.000,- walaupun obligasi dijual dengan harga Rp. 28.500.000,- namun akun utang tetap di kredit sebesar nilai nominalnya. Nilai nominal obligasi dikurangi dengan saldo disagio disebut nilai buku obligasi (bond carrying value) atau utang obligasi neto.
c. Agio
Pada tanggal 1 Maret 2009 PT. Rajawali menerbitkan obligasi sebanyak 5.000 lembar dengan nominal Rp. 20.000,- dengan tingkat suku bunga pertahun 18 %, jangka waktu obligasi ini 5 tahun. Bunga dibayar setiap tanggal 1 Maret setiap tahunnya. Obligasi PT. Rajawali dijual dengan kurs 110.
6. Penyajian dalam Neraca
Utang obligasi pada umumnya disajikan sebagai kewajiban jangka panjang. Kewajiban ini dicatat pada nilai nominalnya. Agio atau disagio dicatat dalam akun terpisah. Agio obligasi disajikan sebagai penambah utang obligasi. Disagio obligasi disajikan sebagai pengurang kewajiban jangka panjang yang bersangkutan. Kalau terdapat agio dan disagio maka dalam neraca dapat ditunjukkan jumlah netonya.
Laporan keuangan harus dapat memberikan keterangan yang jelas tentang sifat dan nilai jaminan yang digunakan untuk mendukung utang yang bersangkutan. Disamping nilai nominal, jumlah lembar obligasi yang dikeluarkan, tingkat bunga dan jangka waktu pelunasan, ketentuan-ketentuan penting lain yang mengikat, seperti misalnya pembatasan untuk mebayar dividen, angka nisbah (ratio) minimum tertentu yang harus dipertahankan, kemungkinan penarikan obligasi tersebut juga harus diungkapkan. Demikian juga halnya apabila perjanjian utang tersebut mensyaratkan adanya penyisihan suatu aktiva tertentu untuk pelunasannya (sinking fund). Pembatasan dividen merupakan salah satu ketentuan dalam surat perjanjian utang yang tujuannya adalah untuk memastikasn bahwa obligasi akan dapat dibayar pada saat jatuh tempo. Ketentuan mengenai pembatasan dividen dilakukan dengan mencadangkan laba di tahan.
7. Dana Pelunasan Obligasi
Di bawah ini akan dijelaskan dana yang disisihkan untuk pelunasan obligasi (sinking fund). Dalam surat perjanjian utang biasanya disebutkan bahwa perusahaan harus menyisihkan suatu dana yang nantinya digunakan untuk melunasi obligasi, pada saat jatuh tempo. Dalam keadaan demikian, perusahaan diharuskan menyetorkan uang secara berskala untuk dana ini. Pada umumnya dana pelunasan obligasi ditempatkan dalam bentuk deposito di bank.
Apabila saldo akun dana pelunasan obligasi lebih bisar dari saldo akun utang obligasi, selisihnya dikembalaikan ke kas perusahaan. Sebaliknya, bila saldo akan dana pelunasan lebih kecil, kekurangannya harus ditutup dari kas perusahaan. Anggaplah bahwa bahwa pada saat pelunasan saldo akun dana pelunasan obligasi-kas adalah Rp. 99.000.000,-.
8. Penarikan obligasi
Dalam surat perjanjian utang kadang-kadang disebutkan bahwa obligasi dapat ditarik kembali setelah jangka waktu tertentu. Harga penarikan (call price) sudah ditetapkan dan biasanya lebih tinggi dari nilai normal. Pada umumnya dorongan untuk menarik kembali adalah menurunnya tingkat bunga. Apabila harga penarikan lebih kecil daripada nilai buku (carrying value), akan timbul keuntungan. Sebaliknya, apabila harga penarikan di atas nilai buku, perusahaan menderita rugi.
Untuk menggambarkan penarikan obligasi anggapalah bahwa suatu perusahaan telah mengeluarkan obligasi yang jumlah nilai nominalnya adalah Rp. 100.000.000,- Pada tanggal 31 Desember 2009 agio yang belum diamortisasikan bersaldo Rp. 4.654.750,-. Perusahaan mempunyai hak untuk menarik kembali obligasi tadi dengan kurs 105. Pada tanggal tersebut hak tadi betul-betul dilaksanakan.
Jumlah yang di bayarkan untuk penarikan obligasi ini adalah Rp. 105.000.000,- Jumlah ini diperoleh dari : 105 / 100 x Rp. 100.000.000,- = Rp. 105.000.000,- Kerugian karena penarikan kembali obligasi disajikan sebagai beban lain-lain. Tetapi, jika jumlahnya sangat besar, harus disajikan sebagai pos luar biasa. Kadang-kadang penarikan
MANAJEMEN KEUANGAN
PERTEMUAN KE XI
PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERWUJUD
A. PENGERTIAN
Untuk menjamin kontinuitas suatu perusahaan, maka penyusutan terhadap satu investasi aktiva tetap merupakan hal yang penting. Jika penyusutan tersebut ditiadakan, aktiva tetap tidak dapat diganti sesuai kebutuhan perusahaan. Penyusutan yang tidak dibebankan sebagai unsur harga pokok di dalam perusahaan dapat mengancam kelangsungan perusahaa karena ketiadaan dana yang tersedia untuk mengganti investasi dalam aktiva tetap ketika masa pakainya tak lagi berlanjut. Tujuan penanaman dana dalam aktiva tetap itu sendiri adalah memperoleh pengembaliannya secara berangsur-angsur melalui depresiasi sesuai sistem/kebijakan perusahaan.
Aktiva tetap adalah aktiva berwujud (tangible fixed assets). Ciri-ciri dari aktiva tetap adalah sebagai berikut :
1. Masa manfaatnya lebih dati satu tahun.
2. Di gunakan dalam kegiatan perusahaan-perusahaan
3. Dimiliki tidak untuk dijual kembali dalam kegiatan normal perusahaan.
B. BIAYA PEROLEHAN
Investasi dalam aktiva tetap adalah suatu bentuk penanaman modal dengan harapan perusahaan tersebut dapat menghasilkan keuntungan melalui operasinya. Aktiva tetap umumnya adalah barang-barang modal perusahaan yang dikembalikan secara berangsung-angsur melalui depresiasi dalam jangka panjang.
Menurut Alex S. Nitisemito, dalam Marihot Manullang – Dearlina Sinaga (2005) “Aktiva tetap adalah elemen dalam aktiva yang sifatnya relatif tetap dalam jangka pendek sehingga tidak ikut naik turun dengan turunnya produksi” Aktiva tetap dapat berubah dalam jangka panjang setelah melampau batas-batas produksi tertentu, tetapi dalam jangka pendek ia relatif tetap. Perputaran investasi dalam aktiva tetap selalu mengharapkan pengembalian modal yang ditanamkan, walaupun secara berangsur-angsur, yaitu melalui depresiasi.
Semua biaya yang terjadi untuk memperoleh suatu aktiva tetap sampai tiba di tempat dan siap digunakan harus dimasukkan sebagai bagian dari harga perolehan (cost) aktiva yang bersangkutan. Yang termasuk harga perolehan adalah biaya pengiriman, asuransi, pemasangan, bea balik nama, uji coba.
Contoh :
PT. Catur Perkasa pada tahun 2009 membeli sebidang tanah di Batam Centre seharga Rp. 150.000.000,-, biaya notaris Rp. 5.000.000,- , biaya balik nama Rp.10.000.000,- dan biaya komisi pada perantara Rp. 7.000.000,- , maka harga perolehan tanah adalah sebesar Rp. 172.000.000,-
Masalah yang sering timbul apabila membeli beberapa aktiva dibeli secara sekaligus. Misalnya membeli tanah beserta gedungnya. Total perolehan harus di bebankan ke masing-masing aktiva yaitu ke tanah dan ke gedung.
Contoh :
Dibeli sebidang tanah beserta gedungnya di kota Pakanbaru seharga Rp. 100.000.000,- termasuk biaya notaris, biaya balik nama, dan komisi. Berdasarkan taksiran harga pasar yang berlaku, nilai tanah Rp. 20.000.000,- dan gedung di taksir seharga Rp. 60.000.000,- Alokasi untuk masing-masing tanah dan gedung sebagai berikut :
Tanah Rp. 20.000.000,-
Gedung Rp. 60.000.000,-
Alokasi harga perolehan sebagai berikut :
Tanah = Rp. 20.000.000,- / Rp. 80.0000.000,- x Rp. 100.000.000,- = Rp. 25.000.000,-
Gedung = Rp. 60.000.000,- / Rp. 80.0000.000,- x Rp. 100.000.000,- = Rp. 75.000.000,-
Jika taksiran yang diketahui hanya salah satu aktiva saja, misalnya tanah yang diketahui, maka sisanya dianggap sebagai harga perolehan aktiva lainnya.
D. PENYUSUTAN
Semua jenis aktiva tetap kecuali tanah mengalami penyusutan, yaitu berkurangnya kemampuan untuk memberikan manfaat dengan berlalunya waktu. Beberapa faktor yang mempengaruhi menurunnya kemampuan itu adalah pemakaian, keausan, ketidakseimbangan kapasitas yang tersedia dengan yang diminta, dan keterbelakangan teknologi. Pengakuan adanya penurunan nilai aktiva tetap berwujud disebut penyusutan (depreciation). Penyusutan dapat dihitung tiap-tiap bulan atau ditunda sampai akhir tahun. Apabila dibuat laporan keuangan. Sebelum melakukan perhitungan dalam penyusutaan aktiva tetap (gedung, mesin, peralatan dll ) di suatu perusahaan, perlu diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi penyusutan yaitu ; 1). Nilai Perolehan (replacement cost atau original cost), 2). Taksiran nilai residu (estimate salvage value), dan 3). Taksiran masa penggunaan (estimate useful life).
E. METODE MENETAPKAN BESAR PENYUSUTAN
Dalam menentukan besarnya penyusutan bagi aktiva tetap yang dibebankan ke dalam biaya operasi perusahaan, terdapat beebagai metode. Metode-metode tersebut berbeda satu sama lain. Perusahaan bebas memilih sesuai dengan kebijakan yang ingin dilaksanakan pimpinan perusahaan. Namun perusahaan harus konsisten dalam penggunaan dari waktu ke waktu.
1. Metode Garis Lurus
Dalam metode garis lurus, beban penyusutan dialokasikan berdasarkan berlalunya waktu, dalam jumlah yang sama, sepanjang masa manfaat aktiva. Beban penyusutan di hitung dengan rumus :
Beban penyusutan = Tarif penyusutan X Dasar penyusutan
Dasar penyusutan = Harga perolehan – Nilai sisa
Tarif penyusutan dalam metode garis lurus di cari dengan membagi 100% dengan perkiraan umur ekonomis suatu aktiva.
Contoh :
Pada tanggal 2 Januari 2006 di beli sebuah mesin seharga Rp. 12.500.000,- Di perkirakan umur ekonomis sampai 2 Januari 2011. Dengan nilai residu Rp. 1.550.000,-
Beban penyusutan tahunan dapat dihitung sebagai berikut :
Beban penyusutan = 20% ( Rp. 12.500.000,- - Rp. 1.550.000,-)
= Rp. 2.190.000,-
Tahun Harga Perolehan (Rp) Beban Penyusutan (Rp) Akumulasi Penyusutan (Rp) Nilai Buku (Rp)
2006 12.500.000,- 2.190.000,- 2.190.000,- 10.310.000,-
2007 12.500.000,- 2.190.000,- 4.380.000,- 8.120.000,-
2008 12.500.000,- 2.190.000,- 6.570.000,- 5.930.000,-
2009 12.500.000,- 2.190.000,- 8.760.000,- 3.740.000,-
2010 12.500.000,- 2.190.000,- 10.950.000,- 1.550.000,-
2. Metode Saldo Menurun
Metode garis lurus menganggap bahwa beban penyusutan akan merata sepanjang umur aktiva tetap. Dalam metode saldo menurun, beban penyusutan makin menurun dari tahun ke tahun. Pembebanan yang makin menurun didasarkan dengan asumsi bahwa semakin tua, kapasitas aktiva tetap dalam memberikan manfaat akan berkurang. Dalam metode saldo menurun dihitung dengan rumus sbb :
Beban Penyusutan = Tarif Penyusutan X Dasar Penyusutan
Dasar Penyusutan = Nilai Buku Awal Periode
Biasanya tarif penyusutan yang digunakan adalah dua kali tarif metode garis lurus. Misalnya apabila suatu aktiva tetap di taksir akan berumur 5 tahun, maka tarif penyusutan adalah 40 %, yaitu dua kali tariff metode garis lurus sebesar 20 %.
Contoh Pada soal di atas :
Beban penyusutan = 40 % (12.500.000 – 0)
= Rp. 5.000.000,-
Bahwa nilai buku pada awal tahun pertama adalah sama dengan harga perolehan, yaitu Rp. 12.500.000,-. Pada saat ini akumulasi penyusutannya sama dengan nol.
Beban penyusutan = 40 % (12.500.000 – 5.000.000,-)
= Rp. 3.000.000,-
Nilai buku pada awal tahun kedua sama dengan harga perolehan dikurangi dengan akumulasi penyusutan pada saat itu, yang jumlahnya sama dengan Rp. 5.000.000,- .
Harga perolehan, beban penyusutan pertahun, akumulasi penyusutan dan nilai buku mesin dapt dilihat pada table di bawah ini :
Tahun Harga Perolehan (Rp) Beban Penyusutan (Rp) Akumulasi Penyusutan (Rp) Nilai Buku (Rp)
2006 12.500.000,- 5.000.000,- 5.000.000,- 7.500.000,-
2007 12.500.000,- 3.000.000,- 8.000.000,- 4.500.000,-
2008 12.500.000,- 1.800.000,- 9.800.000,- 2.700.000,-
2009 12.500.000,- 1.080.000,- 10.880.000,- 1.620.000,-
2010 12.500.000,- 70.000,- 10.950.000,- 1.550.000,-
Dalam metode saldo menurun, tarif penyusutan di hitung sebesar dua kali tarif metode garis lurus dengan tidak memperhatikan adanya nilai sisa. Walaupun demikian, aktiva tetap yang bersangkutan tidak boleh disusutkan samapi di bawah nilai sisa. Untuk menggambarkan mengenai masalah ini, perhatikan penyusutan yang dilakukan pada tahun kelima. Pada permulaan tahun ke lima nilai buku mesin adalah Rp. 1.620.000,- Dengan menggunakan cara penghitungan yang biasa , beban penyusutan ini seharusnya adalah 40 % dari 1.620.000,- sama dengan Rp. 648.000,- Tetapi apabila apabila jumlah ini yang dicatat sebagai beban penyusutan, maka pada akhir tahun ke lima nilai buku mesin menjadi Rp. 970.000,- Nilai sisa yang diperkirakan semula adalah Rp. 1.550.000,- Berdasarkan ke tentuan di atas, penyusutan yang dibebankan pada tahun ke lima hanya Rp. 70.000,- yaitu Rp. 1.620.000,- - Rp. 1.550.000,-
3. Metode jumlah angka tahun
Metode jumlah angka tahun akan menghasilkan jadwal penyusutan yang sama dengan metode saldo menurun. Jumlah penyusutan akan makin menurun dari dari tahun ke tahun. Tetapi cara perhitungaan penyusutan berbeda dengan metode saldo menurun. Beban penyusutan dalam metode ini dihitung dengan menggunakan rumus :
Beban penyusutan = Tarif penyusutan X Dasar penyusutan
Dasar Penyusutan = Harga Perolehan – Nilai sisa
Dasar penyusutan pada metode jumlah angka tahun adalah harga perolehan di kurangi nilai sisa, bukan nilai buku seperti dalam metode saldo menurun. Tarif penyusutan dalam metode ini merupakan suatu bilangan angka tahun yang ada selama masa manfaat aktiva tetap. Jadi apabila suatu aktiva tetap di taksir berumur lima tahun, maka angka-angka tahun yang ada adalah 1, 2, 3, 4, 5. Perhitungan untuk tahun pertama adalah angka tahun terakhir (dalam contoh di atas 5). Pembilang tahun kedua adalah angka tahun kedua setelah terakhir (4) demikian seterusnya sehingga pembilang pada tahun ke lima adalah angka tahun pertama (1). Sebagai penyebut dalam pecahan adalah jumlah angka-angka tahun yang ada. Jadi penyebut dalam contoh di atas adalah 1 + 2 + 3 + 4 + 5 = 15
Contoh pada soal di atas :
Beban penyusutan untuk tahun pertama dihitung sebagai berikut :
Beban Penyusutan = Tarif penyusutan X (Harga perolehan – Nilai sisa)
= 5 / 15 (12.500.000 – 1.550.000)
= Rp. 3.650.000,-
Beban penyusutan untuk tahun kedua adalah sebagai berikut :
Beban penyusutan = Tarif penyusutan X (Harga perolehan – Nilai sisa)
= 4/15 (12.500.000 – 1.550.000 )
= Rp. 2.920.000,-
Pencatatan beban penyusutan untuk tiap-tiap tahun tidak jauh berbeda dengan yang telah di sebutkan di muka. Apabila disusun dalam bentuk tabel, harga perolehan, beban penyusutan pertahun, akumulasi penyusutan dan nilai buku mesin lima tahun akan tampak seperti tabel di bawah ini :
Tahun Harga Perolehan (Rp) Beban Penyusutan (Rp) Akumulasi Penyusutan (Rp) Nilai Buku (Rp)
2006 12.500.000,- 3.650.000,- 3.650.000,- 8.850.000,-
2007 12.500.000,- 2.920.000,- 6.570.000,- 5.930.000,-
2008 12.500.000,- 2.190.000,- 8.760.000,- 3.740.000,-
2009 12.500.000,- 1.460.000,- 10.220.000,- 2.280.000,-
2010 12.500.000,- 730.000,- 10.950.000,- 1.550.000,-
4. Metode unit produksi
Dalam metode garis lurus, saldo menurun, dan metode jumlah angka tahun taksiran memanfaatkan aktiva tetap dinyatakan dalam jangka waktu pemakaianya. Dalam metode unit produksi taksiran manfaat dinyatakan dalam kapasitas produk yang dihasilkan. Kapasitas produksi itu sendiri dapat dinyatakan dalam bentuk unit produksi, jam pemakaian, kilometer pemakaian atau unit-unit kegiatan yang lain. Harga perolehan di kurangi nilai sisa merupakan dasar penyusutan . Tarif penyusutan dihitung sebagai prosentase produksi aktual terhadap kapasitas produksi. Beban penyusutan untuk setiap periode di hitung dengan mengalikan tarif penyusutan dengan dasar penyusutan.
Contoh :
Pada tanggal 2 Januari 2009 sebuah mesin dibeli dengan harga perolehan Rp. 55.000,- Mesin ini diperkirakan di perkirakan mempunyai nilai sisa sebesar Rp. 5.000,- Selama masih digunakan mesin ini diperkirakan dapat menghasilkan 1.000.000 unit barang. Dalam tahun 2009 di produksi 240.000 unit barang. Beban penyusutan untuk tahun 2009 di hitung sebagai berikut :
Tarif Penyusutan = Produk actual
Kapasitas produksi
= 245.000,- / 1.000.000,- X 100 %
= Rp. 12.250,-
Dengan demikian, maka tarif dan beban penyusutan akan bervariasi dari tahun ke tahun, tergantung pada produk actual yang dicapai dalam tahun yang bersangkutan.
F. PENILAIAN DAN PELAPORAN
Aktiva tetap dinilai sebesar nilai bukunya, yaitu harga perolehan dikurangi dengan akumulasi penyusutan. Tetapi apabila manfaat ekonomi dari suatu aktiva tetap tidak lagi sebesar jumlah nilai bukunya, maka aktiva tersebut harus dinyatakan sebesar jumlah yang sepadan dengan nilai manfaat ekonomi yang tersisa. Penurunan nilai kegunaan aktiva tersebut di catat sebagai kerugian.
Dalam laporan keuangan, aktiva tetap dirinci menurut jenisnya, seperti tanah, gedung, mesin, peralatan, kendaraan dll. Akumulasi penyusutan disajikan sebagai pengurang terhadap aktiva tetap, baik secara sendiri-sendiri menurut jenisnya atau secara keseluruhan. Apabila di neraca akumulasi penyusutan dikurangkan secara keseluruhan, maka dalam catatan atas laporan keuangan perlu dibuatkan rincian harga peroehan masing-masing jenis aktiva serta masing-masing penyusutannya, metode penyusutan yang dianut oleh perusahaan serta taksiran masa manfaat, perlu di jelaskan dalam laporan keuangan.
Contoh penyajian kelompok aktiva tetap di neraca apabila akumulasi penyusutan dikurangkan secara keseluruhan adalah sebagai berikut :
Aktiva tetap
Peralatan kantor Rp. 30.000,-
Peralatan toko Rp. 50.000,-
Kendaraan Rp. 25.000,-
Gedung Rp. 105.000,-
Tanah Rp. 20.000,-
Rp. 230.000,-
Akumulasi penyusutan ( Rp. 52.500,-)
Total aktiva tetap , neto Rp. 177.000,-
MANAJEMEN KEUANGAN
PERTEMAUN KE VIII
LAPORAN KEUANGAN
A. LAPORAN KEUANGA
Informasi laporan keuangan berguna bagi pihak internal dan eksternal perusahaan seperti pimpinan, karyawan, serikat pekerja, pemagang saham, kreditur, pemerintah dll. Pada umumnya laporan keuangan disampaikan dalam laporan tahunan (annual report). Laporan keuanga terdiri dari ; neraca, laporan laba rugi, laba di tahan, dan laporan arus kas. Laporan keuangan memberikan gambaran akuntansi atas operasi keuangan perusahaan. Laporan keuangan melaporkan apa yang sebenarnya telah terjadi pada asset, laba, dan dividen beberapa tahun terakhir.
Informasi yang terkandung dalam laporan keuangan tahunan akan digunakan oleh para investor untuk membantu membuat ekspektasi tentang laba dan dividen masa yang akan dating, oleh karena itu laporan keuangan tahunan sudah pasti akan mendapat perhatian yang besar pada investor.
1. Neraca
Dalam sebuah neraca (balance sheet) sebelah kiri menunjukkan aktiva perusahaan sedangkan sebelah kanan menunjukkan kewajiban , ekuitas, atau klaim terhadap aktiva-aktiva. Aktiva disusun menurut urutan “likuiditasnya” atau jumlah waktu yang umum dibutuhkan untuk mengubah menjadi kas. Klain disusun menurut urutan kapan klaim tersebut harus dibayarkan. Contoh Neraca PT. Semarang Jaya
PT. SEMARANG JAYA
NERACA
Per , 31 Desember 2009
Keterangan 2009 2008 Keterang 2009 2008
Kas 10.000,- 80.000,- Utang 60.000,- 30.000,-
Piutang 375.000,- 315.000,- Wesel tagih 110.000,- 60.000,-
Persediaan 615.000,- 415.000,- Akrual 140.000,- 130.000,-
Total Aktiva Lancar 1.000.000,- 810.000,- Total kewajiban 310.000,- 220.000,-
Obligasi jgk panjang 754.000,- 580.000,-
Aktiva tetap 1.000.000,- 870.000,- Total kewajiban 1.064.000,- 800.000,-
Saham preferen 40.000,- 40.000,-
Saham biasa 130.000,- 130.000,-
Laba di tahan 766.000,- 710.000,-
Totak ekuitas biasa 896.000 710.000,-
Total aktiva 2.000.000,- 1.620.000,- Totak kewajiban dan ekuitas 2.000.000,- 1.680.000,-
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam neraca, diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Kas versus aktiva-aktiva lain
Meskipun seluruh aktiva dinyatakan dalam rupiah (dollar) yang dimaksud dengan kas adalah uang yang nyata-nyata ada di perusahaan atau di bank.
b. Kewajiban versus ekuitas pemegang saham
Ekuitas pemegang saham biasa (commond stock equity) atau nilai bersih (net worth) , adalah nilai sisa. Contoh, neraca tahun 2009
Aktiva – Kewajiban – Saham Preferen = Ekuitas saham biasa
2.000.000 – 1.064.000 – 40.000 = 896.000
c. Perincian akun-akun ekuitas biasa
Bagian ekuitas biasa dibagi menjadi dua akun “saham biasa” dan “ laba ditahan”, akun laba di tahan atau disebut saldo (retained earning) akan meningkat seiring dengan waktu ketika perusahaan “menabung” sebagian keuntungannya yang tidak dibagikan sebagai dividen (laba ditahan).
d. Akun persediaan
Ada tiga metode yang sering dipergunakan untuk menghitung persediaan yaitu FIFO (first-in, first out), LIFO (last in, first out) dan rata-rata bergerak.
e. Metode depresiasi
Kebanyakan perusahaan menyiapkan dua laporan keuangan. Satu untuk tujuan perpajakan dan satu lagi untuk pelaporan keuangan kepada para pemegang saham. Biasanya, perusahaan sebisa mungkin menggunakan metode paling cepat yang diizinkan oleh hokum dalam depresiasi untuk tujuan pajak. Namun untuk pelaporan kepada pemegang saham, perusahaan menggunakan garis lurus yang mengakibatkan depresiasi rendah.
2. Laporan Laba Rugi
Penjualan bersih disajikan pada bagian atas setiap laporan, kemudian dikurangi berbagai jenis biaya untuk mendapatkan laba bersih yang tersedia untuk para pemegang saham biasa, yang umumnya cukup dinyatakan sebagai laba bersih saja. Biaya-biaya tersebut meliputi biaya operasional, biaya bunga, dan pajak. Sebuah laporan keuangan tentang laba dan dividen dibagian bawah dari laporan laba rugi.
Laba per lembart saham (EPS) yang disebut sebagai “ total akhir” (bortom line) menunjukkan bahwa diantara seluruh pos yang terdapat di dalam laporan laba rugi, EPS adalah yang paling penting. Contoh laporan laba rugi PT. Semarang Jaya
PT. SEMARANG JAYA
Laporan Laba-Rugi
Per 31 Desember 2009
Keterangan 2009 2008
Penjualan 3.000.000,- 2.850.000
Biaya operasi tidak termasuk depresiasi dan amortisasi 2.616.200,- 2.497.000,-
Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) 383.800,- 353.000,-
Depresiasi 100.000,- 90.000,-
Amortisasi 0 0
Depresiasi dan amortisasi 100.000,- 90.000,-
Laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) atau laba operasi dikurangi bunga 283.800,- 263.000,-
Di kurangi bunga 88.000,- 60.000,-
Laba sebelum pajak (EBT) 195.800,- 203.000,-
Pajak (40%) 78.300,- 81.200,-
Laba bersih sebelum dividen saham preferen 117.500,- 121.800,-
Dividen saham preferen 4.000,- 4.000,-
Laba bersih 113.500,- 117.800,-
Dividen saham biasa 57.500,- 64.800,-
Laba di tahan 56.000,- 64.800,-
Data per saham :
Harga saham
Laba per lembar saham (EPS)
Dividen per lembar saham (DPS)
Nilai buku perlembar saham (BVPS)
Arus kas per lembar saham (CFPS)
23.000,- 26.000,-
2.270,- 2.360,-
1.150,- 1.060,-
17.920,- 16.800,-
4.270,- 4.160,-
Di misalkan ada 50 lembar saham biasa yang beredar. Perhatikan bahwa EPS didasarkan pada paba setelah dividen saham preferen yaitu pada laba bersih yang tersedia untuk pemegang saham biasa. Perhitungan EPS, DPS, BVPS, dan CFPS untuk tahun 2009 adakah sebagai berikut :
Laba perlembar saham (EPS) = laba bersih / saham biasa = 113.500,- / 50 = 2.270,-
Dividen per lembar saham (DPS) = Dividin saham biasa / saham biasa =
57.500/50 = 1.150,-
Nilai buku per lembar saham (BVPS) = total ekuitas biasa / saham biasa =
896.000,- / 50 = 17.920,-
Arus kas per lembar saham (CFPS) =
(laba bersih + Depresiasi + Amortisasi ) / saham biasa = 213.500,- 50 = 427,-
Jika kita melihat laporan laba rugi, akun terlihat bahwa depresiasi dan amortisasi merupakan komponen-komponen yang penting dari total biaya operasional. Biaya depresiasi dan amortisasi dijadikan satu. Depresiasi dan amortisasi, kedua merupakan istilah yang lebih spesifik dari penyusutan yang mencerminkan alokasi dari biaya aktiva selama masa manfaat.
Depresiasi adalah penyusutan pada aktiva berwujud (tangible asset) seperti pabrik dan peralatan, sedangkan amortisasi (amortization) adalah penyusutan pada aktiva tak berwujud (intangible asset) seperti paten, hak cipta, merek dagang.
3. Laporan Laga di tahan
Laporan laba di tahan ( statement of retained rearning) di laporkan pada akhir periodik. Di bawah ini merupakan contoh laba di tahan PT. Semarang Jaya pada untuk tahun yang terakhir 31 Desember 2009.
Saldo laba di tahan , 31 Desember 2009 Rp. 710.000,-
Di tambah : laba bersih , 2009 Rp. 113.500,-
Dikurangi : dividen untuk pemegang saham biasa Rp. (57.500,-)
Saldo laba di tahan, 31 Desember 2009 Rp. 766.000,-
Perlu di catat bahwa “ laba di tahan” menimbulkan suatu klaim terhadap aktiva. Perusahan menahan labanya terutama untuk memperluas bisnisnya, dan ini artinya melakukan investasi pada pabrik dan peralatan, persediaan, dan seterusnya bukan untuk menumpuh kas dalam sebuah rekening bank. Perubahan dalam saldo di tahan terjadi karena pemegang saham memperbolehkan perusahaan menginvestasikan kembali dana yang seharusnya dapat didistribusikan sebagai dividen.
4. Arus Kas bersih
Ketika Anda mempelajari laporan laba rugi dalam mata kuliah akuntansi, penekannya diberikan pada laba bersih perusahaan. Namun dalam bidang keuangan, kita akan berfokus pada arus kas bersih (net cash flow). Nilai dari seluruh aktiva (atau perusahaan secara keseluruahn) di tentukan oleh arus kas yang dihasilkan. Laba bersih perusahaan penting tetapi arus kas bahkan lebih penting lagi karena dividen harus di bayarkan secara tunai dan kas diperlukan untuk membeli aktiva yang dibutuhkan untuk melanjutkan operasi.
Sasaran perusahaan seharusnya adalah memaksimalkan harga sahammnya. Karena nilai dari setiap aktiva, termasuk saham, akan tergantung pada arus kas yang dihasilkan oleh aktiva, para manajer seharusnya berusaha untuk memaksimalkan arus kas yang tersedia bagi para investor dalam jangka panjang. Suatu arus kas bersih bisnis umumnya berbeda dari laba akuntansi (accounting profit) karena beberapa pendapatan dan pengeluaran yang tercantum di dalam laporan laba rugi tidak dibayarkan secara tunai selama tahun berjalan. Hubungan antara arus kas bersih dan laba bersih dapat di nyatakan sebagai berikut :
Arus kas bersih = Laba Bersih – Pendapatan nonkas + beban nonkas
Contoh utama dari pembebanan nonkas adalah depresiasi dan amortisasi. Pos-pos ini mengurangi laba bersih tetapi tidak dibayarkan secara tunai, sehingga kita menambahkan kembali kepada laba bersih ketika menghitung arus kas bersih. Contoh yang lain dari beban nonkas adalah pajak ditangguhkan. Dalam beberapa kasus, perusahaan diperkenankan untuk menangguhkan pembayaran pajak sampai suatu tanggal tertentu ke depan meskipun pembayaran pajak tersebut dilaporkan sebagai pengeluaran dalam laporan laba rugi. Oleh karena itu, pembayaran pajak ditangguhkan akan ditambahkan pada laba bersih ketika menghitung arus kas bersih. Pada waktu yang sama, beberapa pendapatan mungkin tidak dapat ditagih dalam bentuk tunai salam tahun berjalan, dan pos-pos ini harus dikurangkan dari laba bersih ketika menghitung arus kas bersih.
Umumnya, depresiasi dan amortisasi seringkali adalah pos nonkas terbesar. Kebanyakan para analisis berasumsi bahwa arus kas bersih adalah sama dengan laba bersih plus depresiasi dan amortisasi
Arus kas bersih = Laba bersih + Depresiasi + Amortisasi
Rumus di atas tidak akan mencerminkan arus kas bersih secara akurat dalam kejadian-kejadian dimana terdapat pos-pos nonkas signifikan selain depresiasi dan amortisasi. Contoh arus kas bersih pada PT. Semarang makmur di atas.
Arus kas bersih = 113.500,- + 100.000,-
= 213.500,-
Depresiasi merupakan beban nonkas, sehingga harus di tambahkan kembali ke laba bersih untuk mendapatkan arus kas bersih.
B. LAPORAN ARUS KAS
Arus kas bersih mencerminkan jumlah kas yang dihasilkan oleh perusahaan untuk pemegang saham dalam periode tertentu. Akan tetapi sebuah perusahaan yang menghasilkan arus kas yang tinggi tidak selalu jumlah kas yang dilaporkan pada neraca juga akan tinggi. Arus kas tersebut mungkin dipergunakan untuk membayar dividen, meningkatkan persediaan, untuk mendanai piutang, untuk investasi pada aktiva tetap, untuk mengurangi hutang, atau untuk membeli kembali saham biasa. Memang posisi kas perusahaan yang dilaporkan pada neraca akan dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya sebagai berikut :
1. Arus kas
Jika hal-hal lain dianggap konstan, arus kan positif akan mengarah pada lebih banyak kas di dalam perusahaan/bank
2. Perubahan dalam modal kerja
Modal kerja bersih adalah aktiva lancer minus kewajiban lancar. Peningkatan dalam aktiva lancar diluar kas, seperti persediaan dan piutang akan mengurangi kas, sedangkan pengurangan akun-akun ini akan meningkatkan kas. Di sisi lain, penigkatan dalam kewajiban lancar seperti hutang dagang akan meningkatkan kas, sedangkan penurunan pada akuin-akun ini akan menguranginya.
3. Aktiva tetap
Jika sebuah perusahaan berinvestasi pada aktiva-aktiva tetap, hal ini akan mengurangi kasnya. Disisi lain, penjualan dari aktiva tatap akan meningkatkan kas
4. Transaksi sekurutas dan pembayaran dividen
Jika sebuah perusahaan menierbitkan saham atau obligasi selama tahun berjalan, dana yang dikumpulkan akan meningkatkan posisi kasnya. Di sisi lain, jika perusahaan menggunakan kasnya untuk membeli kebali obaligasi atau ekuitasnya yang masih beredar, atau membayar dividen kepada pemegang sahamnya, hal ini akan menurunkan jumlah kasnya.
Masing-masing faktor di atas akan tercermin dalam laporan arus kas (statement of cash inflows), yang merangkum perubahan-perubahan yang terjadi dalam posisi kas sebuah perusahaan. Laporan ini memisahkan aktivitas-aktivitas menjadi tiga kategori :
1. Aktivitas Operasi
Yang meliputi laba bersih, depresiasi, dan perubahan dalam aktiva lancar dan kewajiban lancar di luar kas dan utang jangka pendek.
2. Aktivitas Investasi
Yang meliputi investasi atau penjualan aktiva tetap.
3. Aktivitas Pendanaan
Yang meliputi kas yang dikumpulkan selama tahun berjalan dengan menerbitkan utang jangka pendek, utang jangka panjang, atau saham. Demikian juga, karena dividen yang dibayarkan atau kas yang digunakan untuk membeli saham atau obligasi yang beredar akan mengurangi jumlah kas perusahaan, maka transaksi-transaksi seperti itu akan di masukkan disini.
Contoh laporan arus kas PT. Semarang Jaya tahun 2009.
Aktivitas OPerasi
Laba bersih sebelum dividen saham preferen Rp. 117.000,-
Tambahan (sumber kas)
Depresiasi dan amortisasi Rp. 100.000,-
Peningkatan utang Rp. 30.000,-
Peningkatan akrual Rp. 10.000,-
Pengurangan (penggunaan kas)
Peningkatan piutang (Rp. 60.000,-)
Peningkatan persediaan (Rp. 200.000,-)
Arus kas bersih yang dihasilkan oleh aktivitas operasi ( Rp. 25.000,-)
Aktivitas Investasi jang panjang
Kas yang digunakan untuk membeli aktiva tetap (Rp. 230.000,-)
Aktivitas Pendanaan
Peningkatan wesel tagih Rp. 50.000,-
Peningkatan obligasi Rp. 174.000,-
Pembayaran dividen saham biasa dan preferen (Rp. 61.500,-)
Arus kas bersih yang dihasilkan oleh aktivitas pendanaan Rp. 162.500,-
Penurunan bersih kas dan sekuritas (Rp. 70.000,-)
Kas dan sekuritas pada awal tahun Rp 80.000,-
Kas dan sekuritas pada akhir tahun (Rp. 10.000,- )
Arus kas operasi dihasilkan dari kegiatan bisnis normal, dan jumlah ini (Rp. 25.000,- ) di tentukan dengan menyesuaikan angka laba bersihy untuk memperhitungkan depresiasi dan amortisasi plus arus kas lain yang berhubungan dengan operasi. Operasi sehari-hari PT. Semarang Jaya selama tahun 2009 sebesar Rp. 257.500,-, namun meningkatnya piutang dan persediaan telah melebihi jumlah ini, yang mengakibatkan terjadinya arus kas negatif sebesar Rp. 25.000,-
Bagian kedua, menunjukkan aktivitas-aktivitas investasi aktiva tetap jangkan panjang. PT. Semarang Jaya membeli aktiva tetap senilai Rp. 230.000,- ini adalah satu-satunya investasi jangka panjang yang dibuat selama tahun 2009.
Bagian ketiga, mencakup pinjaman dari bank (wesel tagih) yaitu menjual obligasi, membayar dividen untuk saham biasa dan sahan preferen. PT. Semarang Jaya mendapatkan Rp. 224.000,- melalui pinjaman, tetapi membayar Rp. 61.500,- dividen saham biasa dan saham preferen, sehingga arus kas masuk bersih dari aktivitas-aktivitas pendanaan adalah Rp. 162.500,-
Ketika seluruh sumber dan penggunaan kas di jumlahkan, kita dapat melihat bahwa arus kas keluar PT. Semarang Jaya telah melebihi arus kas masuk sebesar Rp. 70.000,- selama tahun 2009. PT. Semarang Jaya menutupi kekurangan tersebut dengan menarik kas dan kepemilikan sekuritasnya sebesar Rp. 70.000,-
Laporan arus kas PT. Semarang membuat cemas para manajernya dan para analisis dari luar. Perusahaan mengalami kekurangan kas sebesar Rp. 25.000,- dari operasi, menghabiskan Rp. 230.000,- untuk aktiva tetap baru, dan masih harus membayar lagi dividen sebesar Rp. 61.500,- Perusahaan menutupi pembayaran kas ini dengan banyak melakukan pinjaman dan menjual sebagian sekuritasnya. Situasi seperti ini tidak dapat dibiarkan sepanjang tahun, sehingga harus dilakukan sesuatu.
C. AKTIVA (ASSET)
Suatu aktiva bisa di bagi menjadi dua kategori yaitu , pertama aktiva operasi (operating asset) yang terdiri atas kas dan sekuritas, piutang, persediaan, dan aktiva tetap yang dibutuhkan untuk melakukan operasi bisnis. Dan yang kedua adalah nonoperasi (nonoperating asset) yang meliputi investasi pada perusahaan anak, tanah untuk pengembangan perusahaan di masa depan.
Sumber utama modal untuk menjalankan bisnis adalah para investor (pemegang saham), pemilik obligasi, pemberi pinjaman seperti bank. Investor harus mendapatkan imbalan atas penggunaan uangnya. Pembayaran bunga atas obligasi, membayar dividen untuk saham. Jadi, jika sebuah perusahaan membutuhkan lebih banyak aktiva dari pada yang sebenarnya di butuhkan, dan akibatnya menghimpun terlalu banyak modal, maka biaya modalnya akan menjadi terlalu tinggi.
Tidak semua modal yang di butuhkan oleh perusahaan berasal dari para investor, bisa juga berasal dari pemasok, dana dalam bentuk akrual gaji dan pajak. Pada umumnya utang dari pemasok, akrual gaji dan pajak merupakan pinjaman jangka pendek yang tidak ada ongkosnya yang secara eksplisit dibebankan untuk penggunaannya.
Aktiva lancar yang dipergunakan untuk operasi perusahaan disebut modal kerja (operating working capital). Modal kerja operasi dikurangi utang dan akrual disebut sebagai modal operasi bersih (net operating working capital). Rumus modal kerja operasi bersih sbb :
MKOB = Seluruh Aktiva Lancar – Seluruh kewajiban lancar yang tak dikenakan bunga
Ketika menghitung modal kerja operasi bersih, kita mengurangkan kewajiban-kewajiban lancar ini dari aktiva operasi lancar. Kewajiban-kewajiban lainnya yang dikenakan bunga, seperti wesel tagih kepada bank, di perlakukan sebagai modal yang diberikan oleh investor dan karenanya tidak dikurangkan ketika menghitung modal kerja operasi bersih.
Definisi di atas dapat diterapkan pada PT. Semarang Jaya sebagai berikut :
Modal kerja operasi bersih PT. Semarang Jaya tahun 2009 :
Modal Kerja Operasi Bersih = Kas dan sekuritas + Piutang + Persediaan - Utang – Akrual
= ( 10.000,- + 375.000,- + 615.000,- ) - (60.000,- + 140.000,-)
= Rp. 800.000,-
Total modal kerja PT. Semarang Jaya tahun 2009 sbb :
Total Modal Operasi = Modal Kerja Operasi Bersih + Aktiva Tetap Bersih
Total Modal kerja = Modal Kerja Operasi Bersih + Aktiva Tetap Bersih
= 800.000,- + 1.000.000,-
= Rp. 1.800.000,-
Modal kerja operasi bersih PT. Semarang Jaya tahun 2008 :
Modal Kerja Operasi Bersih = Kas dan sekuritas + Piutang + Persediaan - Utang – Akrual
= ( 80.000,- + 315.000,- + 415.000,- ) - (30.000,- + 130.000,-)
= Rp. 650.000,-
Total modal kerja PT. Semarang Jaya tahun 2008 sbb :
Total Modal Operasi = Modal Kerja Operasi Bersih + Aktiva Tetap Bersih
Total Modal kerja = Modal Kerja Operasi Bersih + Aktiva Tetap Bersih
= 650.000,- + 870.000,-
= Rp. 1.520.000,-
Oleh sebab itu PT. Semarang Jaya telah meningkatkan modal operasi dari Rp. 1.520.000,- menjadi Rp. 1.800.000,- , atau sebesar Rp. 280.000,- selama tahun 2009. Sebagian besar peningkatan ini digunakan untuk modal kerja, namun sayang meningkatan hanya berpengaruh pada velume penjualan hanya Rp. 150.000,- Kenaikan modal kerja operasi bersih mencapai 23 persen, sedangkan kenaikan penjaulan hanya sebesar 5 persen (dari Rp. 2.850.000,- menjadi Rp. 3.000.000,- ).
MANAJEMEN KEUANGAN
PERTEMAUN KE IX
ANALISA LAPORAN KEUANGAN
A. PENTINGNYA ANALISA LAPORAN KEUANGAN
Laporan keuangan berisi informasi penting untuk masyarakat, pemerintah , pemasok, kreditor, pemili perusahaan/pemagang saham, manajemen perusahaan, investor, pelanggan, dan karyawan, yang diperlukan secara tetap untuk mengukur kondisi dan efisiensi operasi perusahaan. Analisa dari laporan keuangan bersifat relative karena didasarkan pengetahuan dan menggunakan rasio atau nilai relative. Analisa Rasio, adalah suatu metode perhitungan dan interpretasi rasio keuangan untuk menilai kinerja dan status suatu perusahaa. Input dasar untuk menganalisa rasio adalah laporan laba rugi dan neraca suatu periode tertentuyang akan dievaluasi. Karena itu sebelum menganalisa lebih lanjut, kita perlu menggambarkan berbagai kelompok dan jenis dari rasio perbandingan.
1. Jenis-jenis Rasio perbandingan
Analisa rasio tidak hanya menggunakan rumus terhadap data keuangan untuk menghitung rasio tertentu, tetapi yang lebih penting yaitu menginterpretasikan nilai rasio tersebut. Ada dua rasio perbandingan yaitu : a). rasio yang dibandingkan dengan perusahaan lain (cross-sectional), b). rasio yang dibandingkan dalam perusahaan sendiri secara berskala dari waktu ke waktu (time-series).
a. Analisa rasio yang dibandingkan dengan perusahaan lain
Membandingkan rasio-rasio keuangan beberapa perusahaan pada suatu saat yang sama termasuk membandingkan rasio-rasio perusahaan dengan perusahaan lain dalam industri yang sama atau bias pula dibandingkan dengan rasio rata-rata industri. Benchmaking adalah membandingkan kinerja perusahaan dengan pesaing utama atau kelompok pesaing dengan tujuan untuk perbaikan.
Contoh :
PT. Maja Jaya menghitung perputaran persediaan (inventory turnover) untuk tahun 2008 dan perputaran rata-rata industry sebagai berikut :
Keterangan Perputaran Persediaan tahun 2008
PT. Maju Jaya 29,60
Rata-rata industri 19,40
(29,6 – 19,4 ) / 19,4 X 100 % = 52, 58 %
Dengan data tersebut bahwa PT. Maju Jaya telah mengelola persediaan lebih baik dari rata-rata perusahaan dalam industri yang sejenis. Dapat dikatakan perputaran mendekati 53 % lebih cepat daripada rata-rata industri. Dengan angka tersebut dapat diduga terjadi masalah, sebab dengan semaqkin tinggi perputaran persediaan berarti juga tingkat persediaan rendah. Dengan rendahnya persediaan dapat mengakibatkan kekurangan persediaan, salah salah penyebabnya keterlambatan dalam produksi dan pada akhirnya tidak mampu memenuhi permintaan.
b. Analisa rasio yang dibandingkan dalam perusahaan saendiri secara berskala dari waktu kewaktu atau analisa deret berskala
Mengevaluasi kinerja keuangan perusahaan dalam beberapa periuode dengan menggunakan analisa rasio. Analisa deret berskala ini berdasarkan pada teori bahwa perusahaan harus dievaluasi keadaan masa lalunya untuk diketahui arah perkembangannya dan perusahaan harus melakukan tindakan yang sesuai untuk jangka waktu menengah maupun jangka panjang.
2. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan analisa rasio
a. Sebuah rasio tunggal secara umum tidak dapat memberikan informasi yang memadai untuk mengetahui seluruh kinerja perusahaan. Hanya jika sekelompok rasio digunakan barulah pendapat perusahaan dapat di buat dengan alas an yang mencukupi. Jika analisa hanya berkaitan dengan aspek tertentu dari posisi keuangan perusahaan maka mungkin cukup satu atau dua rasio saja.
b. Laporan keuangan yang dibandingkan harus dalam periode yang sama. Jika tidak maka penyimpangan yang disebabkan oleh dampak musiman dapat menghasilkan kesimpulan yang salah dan karenanya dapat menyebabkan pembuatan keputusan salah.
c. Sebaiknya menggunakan dasar laporan keuangan yang yang telah diaudit. Jika laporan keuangan belum diaudit maka data keuangan perusahaan tidak dapat dipercaya mencerminkan kondisi keuangan perusahaan yang sebenarnya.
d. Perlu diyakinkan data yang dibandingkan disusun dengan metode yang sama. Penggunaan metode yang berbeda khususnya untuk penyusutan dan persediaan dapat menyebabkan distorsi dalam hasil analisa rasio, baik pada analisa yang dibandingkan dengan perusahaan lain maupun analisa deret berskala yang digunakan.
3. Kelompok Rasio Keuangan
Rasio keuangan dibagi pada empat kategori dasar yaitu :
a. Rasio likuiditas (liquidity ratios)
b. Rasio aktivitas (activity ratios)
c. Rasio hutang (debt ratios)
d. Rasio profitabilitas (profitabilitas ratios)
Rasio likuiditas, rasio aktivitas, dan rasio hutang terutama untuk mengukur risiko. Rasio profitabilitas mengukur pengembalian. Dalam jangka pendek unsure terpenting adalah likuiditas, aktivitas, dan profitabilitas, sebab memberikan informasi penting untuk operasi jangka pendek perusahaan. Jika perusahaan tidak dapat bertahan dalam jangka pendek, maka tidak perlu memperhatikan prospek jangka panjangnya. Rasio hutang terutama digunakan jika analis yakin bahwa perusahaan akan berhasil dalam jangka pendek.
Contoh Laporan Laba Rugi dan Neraca PT. Maju Jaya tahun 2008 dan tahun 2009.
PT. MAJU JAYA
LAPORAN LABA RUGI
PER 31 DESEMBER
2009 2008
Penjualan 6.148.000,- 5.134.000,-
Dikurangi : Harga Pokok Penjualan (cost of good sold) 4.176.000,- 3.422.000,-
Laba bruto (gross profit) 1.972.000,- 1.712.000,-
Dikurangi : Biaya – biaya operasi (operating expenses)
Biaya penjualan (selling expenses) 200.000,- 216.000,-
Biaya adm & umum (general & adm expenses) 388.000,- 374.000,-
Biaya sewa guna usaha (lease expenses) 70.000,- 70.000,-
Biaya penyusutan (depreciation expanses) 478.000,- 446.000,-
Total biaya operasi (total operating expenses) 1.136.000,- 1.106.000,-
Laba operasi (operating profit) 836.000,- 606.000,-
Dikurangi : Biaya bunga (interest expenses) 186.000,- 182.000,-
Laba bersih sebelum pajak (net profit before taxes) 650.000,- 424.000,-
Dikurangi : Pajak (taxes), tahun 2009 dan 2008 = 30 %, 195.000,- 127.000,-
Laba bersih sesudah pajak (net profit after taxes) 455.000,- 297.000,-
Dikurangi:dividen saham preferen (preferred stock dividends) 20.000,- 20.000,-
Pendapatan tersedia untuk pemegang saham biasa (earning available for common stockholders) 435.000,- 277.000,-
Pendapatan per saham – PPS (earning per share = EPS)
(shares of common stock outstanding : 76.262 in year 2009, 76.244 in year 2008) 5,70 3,63
PPS Tahun 2008 = 277.000,- / 76.244,- = Rp. 3,63
PPS tahun 2009 = 435.000,- / 76.262,- = Rp. 3,70
PT. MAJU JAYA
NERACA
PER 31 DESEMBER
Perkiraan (account) 2009 2008
Aktiva (asset)
Aktiva lancer (current asset)
Kas (cash) 719.000,- 576.000,-
Surat berharga (market securities) 136.000,- 102.000,-
Piutang dagang (accounts receivable) 1.006.000,- 730.000,-
Persediaan (inventories) 578.000,- 600.000,-
Total aktiva lancer (total cuurent asset) 2.439.000,- 2.008.000,-
Aktiva tetap bruto (gross fixed asset) (a)
Tanah dan bangunan (land & buildings) 4.144.000,- 3.806.000,-
Mesin dan peralatan (machinery & equipment) 3.732.000,- 3.386.000,-
Meubel dan perlengkapan kantor (furniture & fixtures) 715.000,- 632.000,-
Kendaraan ( vehicles) 550.000,- 628.000,-
Lain-lain (other – includes financial leases) 196.000,- 192.000,-
Total aktiva tetap bruto (total gross fixed assets) 9.338.000,- 8.644.000,-
Dikurangi : akumulasi penyusutan (accumulated depreciation) 4.590.000,- 4.112.000,-
Aktiva bersih (net fixed asset) 4.748.999,- 4.532.000,-
Total aktiva (total assets) 7.187.000,- 6.540.000,-
Hutang dan modal pemegang saham (liabilities & stockholder’s equity)
Hutang lancar (current liabilities)
Hutang dagang (account payable ) 764.000,- 540.000,-
Hutang wesel (notes payable) 158.000,- 198.000,-
Kewajiban yang masih harus dibayar (accruals) 318.000,- 228.000,-
Total hutang lancar ( total current liabilities) 1.240.000,- 966.000,-
Hutang jangka panjang (long-term debt – include financial leases) (b) 2.046.000,- 1.934.000,-
Total hutang (total liabilities) 3.286.000,- 2.900.000,-
Modal pemegang saham (stockholders’ equity)
Saham preferen (preferred stock – cumulative 5%, Rp. 200 par 400.000,0 400.000,-
2.000 shares authorized and issued (c)
Saham biasa (commonstock Rp. 5 par, 100.000 shares authorized,
Shares issued abd outstanding in year 2009 = 76.262, in year 2008 = 76.244. 382.000,- 380.000,-
Kapital surplus / agio saham (paid in capital in excess of por aon common stock) 856.000,- 836.000,-
Laba di tahan (retained earnings) 2.263.000,- 2.024.000,-
Total modal pemegang saham (total stockholder’s equity) 3.901.000,- 3.640.000,-
Total hutang dan modal pemegang saham (total liabilities & stockholders’ equity) 7.187.000,- 6.540.000,-
B. PENGGUNAAN ANALISA RASIO
1. Analisa Likuiditas
Analisa likuiditas digunakan untuk mengetahui kemapuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang jatuh tempo. Tiga ukuran dari likuiditas yaitu : (a). Modal kerja bersih, (b). Rasio lancar, (c). Rasio cepat
a. Rasio Modal kerja
Merupakan alat ukur lukuiditas yang diperoleh dari aktiva lancar dikurangi pasiva.
Modal kerja = Aktiva Lancar – Pasiva Lancar
Net Working Capital = Current Asset – Current Liabilities)
Modal kerja PT. Maju Jaya tahun 2009 adalah :
Rp. 2.439.000 – Rp. 1.240.000 = Rp. 1.199.000,-
Angka yang diperoleh tidak bermanfaat jika dibandingkan dengan perusahaan lain tetapi dapat dimanfaatkan untuk pengendalian intern.
b. Rasio lancar
Merupakan alat ukur likuiditas yang diperoleh dengan membagi aktiva lancar dengan pasiva lancar.
Rasio Lancar = Aktiva lancar / Pasiva Lancar
Current Ratio = Current Asset / Current Liabilitues
Rasio Lancar PT. Maju Jaya tahun 2009
Rp. 2.439.000,- / Rp. 1.240.000,- = 1,97 di bulatkan 2
Rasio lancar = 2 di terima, tetapi nilai tergantung pada industri dimana perusahaan berada. Semakin baik penaksiran terhadap aliran kas maka rasio lancar kurang diperetimbangkan. Rasio lancar = 2 berarti perusahaan tetap dapat memenuhi kewajibannya jangka pendeknya walaupun aktiva lancarnya berkurang 50 %. Rasio Lancar = 1 berarti modal kerja bersih = 0
c. Rasio Cepat
Adalah sama dengan rasio lancar kecuali tanpa memperhitungkan persediaan yang dianggap sebagai aktiva lancar.
Rasio Cepat = (Aktiva Lancar – Persediaan ) / Pasiva Lancar
Quick Acid Ratio = (Currents – Inventory) / Current Liabilities
Rasio Cepat PT. Maju Jaya tahun 2009
(Rp.2.439.000 – Rp. 578.000) / Rp. 1.240.000,- = 1,50
Likuiditas persediaan yang rendah dapat diakibatkan 2 faktor yaitu :
1). Terlalu banyak macam persediaan yang tidak dapat dijual dengan mudah karena merupakan barang setengah jadi, barang usang atau barang untuk kegunaan tertentu.
2). Jika barang tersebut dijual dengan kredit maka akan menjadi piutang terlebih dahulu sebelum menjadi uang kas. Rasio cepat = 1 atau lebih besar dari 1 lebih direkomendasikan, tetapi sama seperti rasio lancar nilai yang diterima tergantung pada industrinya. Rasio cepat merupakan alat ukur likuiditas yang lebih baik jika persediaan tidak mudah diuangkan. Jika persediaan likuid maka ‘rasio lancar’ merupakan ukuran likuiditas yang lebih disukai.
Untuk ketiga alat ukur likuiditas modal kerja bersih, rasio lancar dan rasio cepat semakin tinggi nilainya maka likuiditas perusahaan semakin baik.
2. Analisa Aktivitas
Analisa aktiva , digunakan untuk mengetahui kecepatan beberapa perkiraan menjadi penjualan atau kas. Rasio yang dipakai untuk mengukur aktivitas yaitu :
a. Perputaran Persediaan
Yaitu mengukur aktivitas atau likuiditas dari persediaan perusahaan. Perputaran persediaan hanya akan mempunyai arti jika dibandingkan dengan perusahaan lain dalam industri yang sama atau perputaran persediaan perusahaan masa lalu.
1). Perputaran Persediaan
Perputaran Persediaan = Harga Pokok Penjualan / Persediaan
Inventory Turnover = Cost of Good Sold / Inventory
Perputaran Persediaan PT. Maju Jaya pada tahun 2009 adalah :
Rp. 4.176.000,- / Rp. 578.000,- = 7,2
Perputaran persediaan dapat diubah menjadi rata-rata umur persediaan, yaitu rata-rata lamanya persediaan di pegang oleh perusahaan.
2). Rata-rata Umur Persediaan
Rata-rata umur persediaan = Jumlah hari dalam 1 tahun / Perputaran Persediaan
Average Age of Inventory = The Number of Days in a year / Inventory Turnover
Rata-rata umur persediaan untuk PT. Maju Jaya pada tahun 2009 adalah :
360 hari / 7,2 = 50 hari
b. Rata-rata Periode Tagih
Adalah jumlah rata-rata waktu yang diperlukan untuk menagih piutang. Rasio tersesebut bermanfaat untuk mengevaluasi kebijakan pimpinan dan kebijakan penagihan.
1). Rata-rata Periode Tagih
Rata-rata Periode Tagih = Piutang / Rata-rata penjualan per hari
Average Collection Period = Accounts Receivable / Average Sales per Day
Atau
2). Rata-rata periode Tagih
Rata-rata Periode Tagih = Piutang / (Penjualan Tahunan / 360)
Average Collection Period = Accounts Receivable / (Annual Sales / 360)
Rata-rata Periode tagih untuk PT. Maju Jaya tahun 2006 adalah :
Rp. 1.006.000,- / (Rp. 6.146.000,- / 360 ) = 58,9 hari
Nilai rata-rata periode tagih hanya berarti jika dikaitkan dengan persyaratan kredit perusahaan. Jika perusahaan menetapkan kredit dalam waktu 30 hari pada pelanggan maka rata-rata periode tagih sebesar 58, hari menunjukkan pengelolaan kredit yang buruk atau penagihan yang kurang baik. Sebaliknya jika batas waktu 60 hari maka rata-rata periode tagih 58,9 hari cukup dapat diterima .
c. Rata-rata Periode Bayar
Adalah jumalh rata-rata waktu yang diperlukan untuk membayar hutang dagang.
1). Rata-rata periode bayar
Rata-rata periode bayar= Hutang / rata-rata pembelian per hari
Average Payment Period = Account Payable / Average Purchases Per Day
2). Rara-rata pembelian per hari
Rata-rata Pembelian Per hari = Pembelian tahun / 360
Average Purchase Day = Annual Purchase / 360
Kesulitan dalam perhitungan rasio ini adalah mencari pembelian tahunan (pembelian tahunan, secara teknis adalah pemberian kredit tahunan yang digunakan untuk menghitung rasio tersebut), yang nilainya tidak dapat diperoleh dari laporan keuangan yang publikasikan . Dalam PT. Maju jaya di sini, pembelian di asumsikan sama dengan harga pokok penjualan.
Rata-rata periode pembayaran untuk PT. Maju Jaya tahun 2009 adalah :
764.000,- / (Rp. 4.176.000,- / 360) = 65,8 hari
Angka tersebut hanya berarti jika dikaitkan dengan syarat yang ditentukan bagi perusahaan. Jika rata-rata pemasok menetapkan persyaratan 30 hari maka rating kredit perusahaan rendah, sedangkan jika perusahaan menetapkan persyaratan kredit 90 hari kredit tersebut diterima
d. Perputaran Aktiva Tetap
Merupakan alat ukur efisien di manan perusahaan menggunakan aktiva tetapnya untuk menghasilkan penjualan.
Perputaran Aktiva Tetap = Penjualan / Aktiva Tetap Bersih
Perputaran aktiva tetap untuk PT. Maju Jaya tahun 2009 adalah sebagai berikut :
Rp. 6.148.000,- / Rp. 4.748.000,- = 1,29
Berarti tingkat perputaran aktiva tetap bersih 1,29 kali dalam 1 tahun. Secara umum tingkat perputaran aktiva tetap yang tinggi lebih disukai sebab mencerminaknm tingkat efisiensi yang lebih tinggi dari penggunaan aktiva tetap.
e. Perputaran Total Aktiva
Menunjukkan efisiensi dimana perusahaan menggunakan seluruh aktivanya untuk menghasilkan penjualan. Pada umumnya semakin tinggi perputaran aktiva, semakin efisien penggunaan aktiva tersebut.
Perputaran Total Aktiva = Penjualan / Total Aktiva
Total Asset Turnover = Sales/Total Asset
Perputaran total aktiva untuk PT. Maju Jaya tahun 2009 adalah sebagai berikut :
Rp. 6.148.000,- / 7.187.000,- = 0,85
3. Analisa Hutang
Pada umumnya seorang analisis keuangan bekepentingan dengan hutang jangka panjang sebab perusahaan harus membyar bunga dalam jangka panjang dan pokoknya. Demikian pula tuntutan terhadap kreditur harus didahulukan dibandingkan dengan pembagian hasil kepada pemegang saham. Pemberian pinjaman juga berkepentingan terhadap kemampuan perusahaan untuk membyar hutang sebab semakin banyak hutang perusahaan, semakin tinggi kemungkinan perusahaan tidak dapat memenuhi kewajibannya kepada kreditur. Manajemen jelas berkepentingan terhadap hutang perusahaan agar dapat membayar kewajibannya.
Ada 2 (dua) bentuk umum mengukur piutang yaitu (a). tingkat jumlah hutang / degree of indebtedness), (b). Kemampuan melunasi hutang / ability to service debts.
a. Tingkat Jumlah hutang
Mengukur tingkat jumlah terhadap seluruh kekayaan perusahaan . Ada dua ukuran yang biasa digunakan yaitu (1). Rasio Hutang, dan (2). Rasio Hutang terhadap ekuitas
1). Rasio Hutang.
Yaitu mengukur besarnya total aktiva yang dibiayai oleh kreditur-kreditur perusahaan. Semakin tinggi rasio tersebut semakin banyak uang kreditur yang digunakan perusahaan untuk menghasilkan laba
Rasio Hutang = Total Kewajiban / Total Aktiva
Debt Ratio = total Liabilities / Total Assets
Rasio Hutang PT. Maju Jaya pada tahun 2009 adalah sebagai berikut :
Rp. 3.286.000,- / Rp. 7.187.000,- = 45,7 %
Berarti aktiva perusahaan telah dibiayai sebesar 45,7 % oleh hutang. Semakin tinggi rasio hutang perusahaan semakin besar pengaruh keuangan perusahaan.
2). Rasio Hutang terhadap Ekuitas.
Yaitu perbandingan antara hutang jangka panjang dengan modal pemegang saham perusahaan.
Rasio Hutang terhadap Ekuitas = Hutang Jakangka panjang / Ekuitas
Debt Equity Ratio = Long Term Bebt / Stockholders’s Equity
Rasio hutang terhadap Ekuitas PT. Maju Jaya tahun 2009 adalah sebagai berikut :
Rp. 2.046.000,- / Rp. 3.901.000,- = 52,4 %
Berarti pinjaman jangka panjang perusahaan hanya 52,4 % dari modal sendiri
b. Kemampuan Melunasi hutang
Adalah kemampuan perusahaan untuk melakukan pembayaran hutang sesuai perjanjian berdasarkan jadwal selama umur hutang . Dalam hutang terdapat kewajiban tetap untuk membayar bunga dan pokok pinjaman.
Kemampuan perusahaan untuk membayar biaya tetap diukur dengan menggunakan rasio-rasio mampu (coverage ratios). Rasio-rasio mampu yang lebih disukai, tetapi terlalu tinggi rasio tersebut (diatas rata-rata industri) menunjukkan adanya kewajiban tetap yang tidak digunakan dengan baik. Sebaliknya semakin rendah rasio-rasio mampu maka perusahaan lebih berisiko untuk tidak dapat membayar kewajibannya.
Dua rasio-rasio mampu yaitu ; (1) Rasio mampu bayar bunga, dan (2). Rasio mampu bayar kewajiban tetap.
1). Rasio mampu bayar bunga
Rasio ini mengukur berapa kali kemampuan perusahaan untuk membayart kewajiban berupa bunga dari hasil laba sebelum bunga dan pajak. Semakin tinggi rasio ini maka semakin baik kemampuan perusahaan membayar bunga
Rasio mampu membayar bunga = Laba sebelum bunga dan pajak / Bunga
Times Interest Earned Ratio = Earnings Before Interest and Taxes / Interest
Rasio mampu membayar bunga PT. Maju Jaya pada tahun 2009 adalah sbb :
Rp. 836.000,- Rp. 186.000,- = 4,49 dibulatkan 4,5
2). Rasio mampu bayar kewajiban tetap
Rasio ini mengukur berapa kali kemampuan perusahaan untuk memenuhi semua kewajiban tetapnya seperti bunga dan pokok pinjamannya, pembayaran sewa guna usaha dan dividen saham preferen dari hasil laba sebelum bunga dan pajak serta pembayaran sewa usaha. Semakin tinggi rasio ini maka semakin baik kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban tetapnya.
Rasio mampu membayar kewajiban tetap = (laba sebelum bunga dan pajak + pembayaran sewa guna usaha) / bunga + pembayaran sewa guna usaha + ((pokok pinjaman + dividen saham preferen) x ((1/(1 – pajak))
Fixed Payment Coverage Ratio = (Earning before Interest and Taxes + Lease Payment) / Interest + Lease Payment + (( Principal Payments + Prefered Stock Dividen) x ((1/(1-T))
Rasio mampu bayar kewajiban tetap PT. Maju Jaya pada tahun 2009 sbb :
Rp. 836.000,- + Rp. 70.000,- / Rp. 186.000,- + Rp. 70.000,- (( Rp. 142.000,- + Rp. 20.000) x (1/ (1 – 0,30 ))) = 1,9
Berarti pendapatan yang diperoleh hampir sebesar dua kali dari kewajiban sehingga perusahaan tampak aman. Sama seperti rasio rasio mampu bayar bunga, rasio mampu bayar kewajiban tetap mengukur risiko. Semakin rendah rasio tersebut , semakin tinggi risiko baik bagi yang meminjamkan maupun pemilik. Semakin tinggi rasio tersebut semakin rendah risikonya. Risiko timbul jika perusahaan tidak mampu untuk membayar kewajiban tetapnya sesuai jadwal yang dapat menyebaabkan perusahaan bangkrut.
4. Analisa Profitabilitas
Tiga rasio profitabilitas yang dapat dibaca langsung dari laporan laba rugi dalam persentasi yang umum yaitu :
a. Marjin Laba Kotor (gross profit margin)
Adalah ukuran persentase dari setiap hasil sisa penjualan sesudah perusahaan membayar harga pokok penjualan. Semakin tinggi marjin laba kotor, maka semakin baik dan secara relatif semakin rendah harga pokok barang yang dijual.
Marjin Laba Kotor = (penjualan – Harga pokok Penjualan) / penjualan = Laba Kotor / Penjualan
Gross Profit Margin = (Sales – Cost of Goods Sold) / Sales = Gross Profits / Sales
Nilai marjin laba kotor PT. Maju Jaya pada tahun 2009 adalah sbb :
(Rp. 6.148.000,- - Rp. 4.176.000,- ) / Rp. 6.148.000,- = 32,1 %
b. Marjin Laba Operasi (operating profit margin)
Adalah ukuran persentase dari setiap hasil sisa penjualan sesudah semua biaya dan pengeluaran lain dikurangi kecuali bunga dan pajak atau laba bersih yang dihasilkan dari setiap rupiah penjualan. Marjin laba operasi mengukur laba yang dihasilkan murni dari operasi perusahaan tanpa melihat beban keuangan (bunga) dan beban pajak dari pemerintah (pajak)
Marjin laba Operasi = Laba Operasi / Penjualan
Operating Profit Margin = Operating Profits / Sales
Nilai marjin laba operasi untuk PT. Maju Jaya pada tahun 2009 adalah sbb :
Rp. 836.000,- / Rp. 6.148.000,- = 13,6 %
c. Margin Laba bersih (net profit margin)
Adalah ukuran persentase dari setiap hasil sisa penjualan sesudah dikurangi semua biaya dan pengeluaran, termasuk bunga dan pajak.
Marjin laba bersih = laba bersih setelah pajak / Penjualan
Net Profit Margin = Net Profits After Texas / Sales
Marjin laba bersih untuk PT. Maju Jaya pada tahun 2009 adalah sebagai berikut :
Rp. 455.000,- / Rp. 6.148.000,- = 7,4 %